Tampilkan postingan dengan label poems. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poems. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juli 2007

A poem without meaning

Bukan yang paling terang
Namun menyala kerlipnya
Di tengah langit
Jiwa malam yang gelap
………menyebutnya BINTANG

Ingin menyapa…. cahayanya
Tapi…..

Hanyalah aku…..
………..KABUT SUBUH
Merengkuh embun

Yang pupus sirna
Oleh teguran lembut sang dewa surya
Kala pagi menjemput

……..Jeda oleh jutaan masa……
Kuketuk pergantian waktu…
malam…subuh dan pagi……..

karena dia bintang dan aku kabut subuh…..

option

Option…………….

Cause life is consist of thousand…………option………
Consideration……..

…………..*****Which path that should be taken…..*****




(*****punya pilihan… bingung,,,,,ga punya pilihan…tambah bingung lage kale…èspeechless)

Puisi wagu

Puisi Wagu

Buset…………..
Meleset………….
Reset………….

Dan kuletakkan

Dan kuletakkan
Sekuntum mawar hitam
Di sebuah pusara hati ….

Untuk semua kisah…
Hujan pun belum jua berhenti…

Tak Kunjung

Tak kunjung


***** tampak tak kunjung mengerti
Mungkin ***** tak kan bisa….
Atau….tak kan pernah…..

Ku mengerti
Atas ketidakpahaman *****

Cukup kumengerti
Tanpa terucap kata *****

Hanya diam

Tak Terjawab

Tak terjawab..

Masih berdiri di sana…………..

Dan….pertanyaan ini
masih belum jua terjawab..


Sedangkan……..
Jawaban ini
T’lah kutitipkan
Pada Kabut Subuh
Yang menyapa
Kali ini……………..

Bahkan sebelum
Bintang malam pun bertanya……


Dan pertanyaan ini….
Tak akan pernah terjawab……..
Bersama………….angin yang berlalu
Pergi…………………
Pergi…………………….
…………..dan pergi………………..

Mengembara bersama waktu……………….

Berlalu…………………………

Tentangku juga..pantai

Tentangku juga.. Pantai



Seperti ombak
Di tepian pantai…
Berlarian
Tanpa lelah tuk menghampiri
Selalu setia menyapa
Lembutnya pasir pasir pantai

Seperti karang yg selalu kokoh.
Walau diterjang sejuta badai
Tetap berdiri di sana…
Abadi……….


Dan aku di sini..
Berjalan menyusuri..
Tepi garis batasmu
Ditemani jilatan lidah laut
Dan bermain dengan usapan lembut desah sang angin pantai
Yang berbisik di tengkukku

Menatap lembut garis cakrawalamu
Keindahan tak tertandingi
Pulangnya sang Kala kepada peraduannya


Dan aku terdiam di sana
Tersenyum dalam bekuku
Berdialog dalam diamku

Masih saja tersisa
Satu Tanya



(***ingatan kepada suatu ketika di tepi pantai Parang Tritis, Yogyakarta**********)

Terbangun

Terbangun




Tuk Sebuah ‘Tamparan’ di Pipi…..
Tuk sebuah ‘ ketukan’ di kening….


Terima kasih membangunkanku

Dari secangkir ilusi yang kutenggak
Yang menyerap jiwa dan sadarku…

Terlepas

Terlepas……………

Tangan ini……….
yang… tak pernah sanggup….
Tuk menggenggam
Semakin rapuh………
….lelah……….

Dan mata ini
Hanya sanggup menatapi..
Buram……..

Bulir embun
Hanya setetes…….
Hanya setetes………..
Hanya setetes yang ada

Meluncur Jua ………….
Di ujung jemari….

………perlahan
Jatuh…..
Terlepas…………

Kunikmati masa…
Penuh sadar….
Detik detik
Kala bening itu
Jatuh
Terlepas

Kusadari……
Tangan ini….…….
memang tak pernah menggenggam…………….

Ternyata

Ternyata…..

Salah…
Hanya dapat merutuk….
No way back

Trapped

usai

Usai

………retak lebar….
Sekali tepukan
Semua buyar
Hingga kepingan terkecil

Usai